BAKPAO
I. Judul : Membuat Produk Koloid Bakpao
II. Tujuan :
- Mengetahui dan mempraktikan cara membuat bakpao
- Menjelaskan dan mengidentifikasi koloid dalam bakpao
III. Pelaksanaan Percobaan:
Hari/tanggal : Senin, 24 Februari 2014
Waktu : Pukul 19.00 s.d. selesai
Tempat : Jl. Cijerokaso No 35 C, Sarijadi
IV. Alat dan Bahan:
Alat:
- Baskom
- Mixer
- Parutan
- Kukusan
- Lap
- Gelas
- Timbangan
- Mangkuk
- Saringan
- Daun Pisang Secukupnya
Bahan :
- Tepung 1 kg
- Telur 2 butir
- Gula halus 200 gram
- Mentega cair 200 gram
- Garam 1/2 sendok teh
- Fermipan 1 1/2 bungkus
- Super gs 1 bungkus
- Santan 1/2 gelas
- Air dingin secukupnya
- Selai Strawberry
- Kacang yang sudah diolah
- Daging cincang yang sudah diolah
V. Landasan Teori
1. Pengertian Koloid
Koloid adalah suatu bentuk campuran yang keadaannya terletak antara larutan dan campuran kasar. Meskipun secara makrokopis koloid tampak homogen, tetapi koloid digolongkan ke dalam campuran heterogen. Campuran koloid pada umumnya bersifat stabl dan tidak dapat disaring. Ukuran partikel koloid terletak antara 1 nm – 100 nm. Sistem koloid terdiri atas terdispersi dengan ukuran tertentu dalam medium pendispersi. Zat yang didispersikan disebut fase terdispersi, sedangkan medium yang digunakan untuk mendispersikan disebut medium dispersi. Fase terdispersi bersifat diskontinu (terputus-putus), sedangkan medium dispersi bersifat kontinu. (Keenan, 1984)
Dalam campuran homogen dan stabil yang disebut larutan, molekul, atom, ataupun ion disebarkan dalam suatu zat kedua. Dengan cara yang agak mirip, materi koloid dapat dihamburkan atau disebarkan dalam suatu medium sinambung, sehingga dihasilkan suatu disperse ( sebaran ) koloid atau sistem koloid. Selai, mayones, tinta cina, susu dan kabut merupakan contoh yang dikenal. Dalam sistem-sistem semacam itu, partikel koloid dirujuk sebagai zat terdispersi( tersebar ) dan materi kontinu dalam mana partikel itu tersebar disebut zat pendispersi atau medium pendispersi. (Arsyad, 2001)
2. Macam-macam koloid
a. Aerosol. Sistem koloid dari partikel padat atau cair yang terdispersi dalam gas disebut aerosol. Jika zat yang terdispersi berupa zat padat, disebut aerosol padat; jika zat yang terdispersi berupa zat cair, disebut aerosol cair.
b. Sol. Sistem koloid dari partikel padat yang terdispersi dalam zat cair disebut sol. Koloid jenis sol banyak kita temui dalam kehidupan sehari-hari maupundalam industri.
c. Emulsi : Sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam zat cair lain disebut emulsi. Syarat terjadinya emulsi ini adalah kedua jenis zat cair itu tidak saling melarutkan. Emulsi dapat digolongkan kedalam dua bagian, yaitu emulsi minyak dalam air ( M / A ) atau emulsi air dalam minyak ( A / M ). Dalam hal ini, minyak diartikan sebagai semua zat cair yang tidak bercampur dengan air.
d. Buih : Sistem koloid dari gas yang terdispersi dalam zat cair disebut buih. Seperti halnya dengan emulsi, untuk menstabilkan buih diperlukan zat pembuih, misalnya sabun, detergen, dan protein. Buih dapat dibuat dengan mengalirkan suatu gas kedalam zat cair yang mangandung pembuih. ( Keenan, 1984 )
e. Gel : Koloid yang setengah kaku ( antara padat dan cair ) disebut gel. Contoh : agar-agar, lem kanji, selai, gelatin, gel sabun, dan gel silica. Gel dapat terbentuk dari suatu sol yang zat terdispersinya mengadsorpsi medium dispersinya sehingga terjadi koloid yang agak padat.
3. Sifat – Sifat Koloid
a. Efek Tyndall
Partikel debu, banyak diantaranya terlalu kecil untuk dilihat, akan nampak sebagai titik-titik terang dalam suatu berkas cahaya. Bila partikel itu memang berukuran koloid, partikel itu sendiri tidak nampak; yang terlihat ialah cahaya yang dihamburkan oleh mereka. Hamburan cahaya itu disebut efek tyndall. Ini disebabkan oleh fakta bahwa partikel kecil menghamburkan cahaya dalam segala arah.
Efek tyndall dapat digunakan untuk membedakan dispersi koloid dan suatu larutan biasa, karena atom, molekul, ataupun muaatan yang berbeda dalam suatu larutan tidak menghamburkan cahaya secara jelas dalam contoh-contoh yang tebalnya tak seberapa. Penghamburan cahaya tyndall dapat menjelaskan betapa buramnya dispersi koloid. Misalnya, meskipun baik minyak zaitun maupun air itu tembus cahaya, dispersi koloid dari kedua zat ini nampak seperti susu.
b. Gerak Brown
Jika suatu mikroskop optis difokuska pada suatu dispersi koloid pada arah yang tegak lurus pada berkas cahaya dan dengan latar belakang gelap, akan nampak partikel-partikel koloid, bukan sebagai partikel dengan batas yang jelas, melainkan sebagai bintik yang berkilauan. Dengan mengikuti bintik-bintik cahaya yang dipantulkan ini, orang dapat melihat bahwa partikel koloid yang terdispersi ini bergerak terus-menerus secara acak menurut jalan yang berliku-liku. Gerakan acak partikel koloid dalam suatu medium pendispersi ini disebut gerakan brown, menurut nama seorang ahli botani Inggris, Robert Brown, yang mempelajarinya dalam tahun 1827.
c. Adsorpsi
Materi dalam keadaan koloid mempunyai luas permukaan yang sangat besar. Pada permukaan partikel terdapat gaya van der waals yang belum terimbangi atau bahkan gaya valensi yang dapat menarik dan mengikat atom-atom (molekul-molekul) dari zat asing. Adhesi zat-zat asing ini pada permukaan suatu partikel disebut adsorpsi. Zat-zat teradsorpsi terikat dengan kuat dalam lapisan-lapisan yang biasanya tebalnya tidak lebih dari satu atau dua molekul. Banyaknya zat asing yang dapat diadsorpsi bergantung pada luasnya permukaan yang tersingkap. Meskipun adsopsi merupakan suatu gejala umum dari zat padat, adsorpsi ini teristimewa efisiensinya dengan materi koloid yang disebabkan oleh besarnya luas permukaan itu.
d. Koagulasi
Telah disebutkan bahwa koloid distabilkan oleh muatannya. apabila muatan koloid dilucuti maka kestabilan akan berkurang dan dapat menyebabkan koagulasi atau penggumpalan. Pelucutan muatan koloid dapat terjadi pada sel elektroforesis atau jika elektrolit ditambahkan kedalam sistem koloid. Apabila arus listrik dialirkan cukup lama kedalam sel elektroforesis maka partikel koloid akan digumpalkan ketika mencapai elektrode. Jadi, koloid yang bermuatan negatif akan digumpalkan di anode, sedangkan koloid yang bermuatan positif digumpalkan di katode.
e. Koloid Pelindung
Pada beberapa proses, suatu koloid harus dipecahkan. Misalnya, koagulasi lateks. Dilain pihak, koloid perlu dijaga supaya tidak rusak. Suatu koloid dapat distabilkan dengan mmenambahkan koloid lain yang disebut koloid pelindung. Koloid pelindung akan membungkus partikel zat terdispersi sehingga tidak dapat lagi mengelompok.
f. Dialisis
Pemisahan muatan dari koloid dengan difusi lewat pori-pori suatu selaput semipermeabel disebut dialisis. Pori-pori itu biasanya berdiameterkurang dari 10 Å dan membiarkan lewatnya molekul air dan muatan-muatan kecil. Selaput hewani alamiah, kertas perkamen, selofan dan beberapa plastic sintetik merupakan bahan selaput yang sesuai. Partikel-partikel yang melewati membran agaknya berlaku demikian tidak sekedar berdasarkan difusi acak. Mereka teradsorpsi pada permukaan membran dan bergerak dari letak ( site ) adsorben yang satu ke yang lain pada waktu mereka bergerak melewati pori-pori itu. ( Oxtoby, 2001)
4. Cara Pembuatan Koloid
Larutan koloid dapat dibuat dengan dua cara yaitu :
· Kondensasi
Kondensasi adalah penggabungan partikel – partikel halus ( molekuler ) menjadi partikel yang lebih besar. Pembuatan koloid dengan cara ini dilakukan melalui :
Ø Cara Kimia: Partikel koloid dibentuk melalui reaksi – reaksi kimia, seperti reaksi hidrolisis, reaksi reduksi oksidasi, atau reaksi subtitusi.
* Hidrolisis : Merupakan reaksi suatu zat dengan air
* Reaksi Redoks : Merupakan reaksi yang disertai perubahan biloks
* Reaksi Subtitusi : Merupakan reaksi penggantian
Ø Cara Fisika
Dilakukan dengan jalan menurutkan kelarutan dari zat terlarut, yaitu dengan jalan pendinginan atau mengubah pelarut sehingga terbentuk satu sol koloid.
· Dispersi
Pembuatan koloid dengan cara dispersi merupakan pemecahan partikel – partikel kasar menjadi partikel yang lebih halus/lebih kecil dapat dilakukan secara mekanik, peptisasi atau dengan loncatan bunga listrik ( listrik busur breding ).
Ø Cara Mekanik
Dengan cara ini butir – butir kasar digerus dengan lumpang atau penggiling koloid sampai diperoleh tingkat kehalusan tertentu kemudian diaduk dengan medium dispersi.Contoh : Sol belerang dibuat dengan menggerus serbuk belerang bersama – sama dengan suatu zat inert (seperti gula pasir ) kemudian mencampur serbuk halus dengan air
Ø Peptisasi
Pembuatan koloid dengan cara peptisasi adalah membuat koloid dari butir – butir kasar atau dari suatu endapan dengan bantuan suatu zat pemeptisasi ( pemecahan ). Contoh : Agar – agar dipeptisasi oleh air, nitroselulosa oleh aseton, karet oleh bensin dan lain – lain. (Oxtoby, 2001)
VI. Cara Kerja :
1. Memasukkan dua buah telur kedalam baskom.
2. Memasukkan gula halus ke dalam baskom.
3. Mixer telur dan gula halus.
4. Memasukkan garam 1/2 sendok teh.
5. Memasukkan 200 gram mentega cair.
6. Memasukkan 1 kg tepung segitiga biru
7. Memasukkan 1 1/2 bungkus fermipan
8. Memasukkan 1 bungkus super gs
8. Memasukkan 1 bungkus super gs
9. Mengaduk semua adonan hingga kalis.
10. Mendiamkan hingga terlihat mengembang sekitar 15 menit
11. Mencetak adonan sesuai yang di inginkan.
12. Mendiamkan kembali hingga adonan yang dicetak mengembang sekitar 15 menit.
13. Mengkukus adonan selama 10 menit.
14. Sajikan.
VII. DISKUSI HASIL PERCOBAAN
Setelah melakukan pembuatan, pengamatan, dan diskusi, didapatkan bahwa :
1. Saat pengadonan dilakukan, dimana terigu dicampurkan dengan cairan berupa susu dan bahan dasar lain, dapat dilihat bahwa adonan tersebut merupakan salah satu jenis koloid, yakni koloid sol. Karena fase terdispersinya (terigu) merupakan fase padat dan medium pendispersinya cair, maka adonan bakpao termasuk pada sol cair atau dikenal juga dengan kolid liofil karena sifatnya stabil dimana terdapat gaya tarik menarik yang cukup besar antara fase terdispersi dengan medium pendispersi.
2. Bakpao yang dicampur ragi dan hasilnya mengembang termasuk pada buih padat karena ragi yang dimasukkan ke dalam campuran mengeluarkan gas CO2 sehingga terdapat gelembung-gelembung udara. Dalam peristiwa ini menandakan bahwa adanya gas yang terdisperi dalam fase padat. Buih Padat adalah sistem koloid dengan fase terdisperasi gas dan dengan medium pendisperasi zat padat. Kestabilan buih ini dapat diperoleh dari zat pembuih (surfaktan).
3. Fermentasi alkohol merupakan suatu reaksi pengubahan glukosa menjadi etanol (etil alkohol) dan karbondioksida. Organisme yang berperan yaitu Saccharomyces cerevisiae (ragi) untuk pembuatan tape, roti atau minuman keras. Reaksi Kimia:
VIII. KESIMPULAN
VII. DISKUSI HASIL PERCOBAAN
Setelah melakukan pembuatan, pengamatan, dan diskusi, didapatkan bahwa :
1. Saat pengadonan dilakukan, dimana terigu dicampurkan dengan cairan berupa susu dan bahan dasar lain, dapat dilihat bahwa adonan tersebut merupakan salah satu jenis koloid, yakni koloid sol. Karena fase terdispersinya (terigu) merupakan fase padat dan medium pendispersinya cair, maka adonan bakpao termasuk pada sol cair atau dikenal juga dengan kolid liofil karena sifatnya stabil dimana terdapat gaya tarik menarik yang cukup besar antara fase terdispersi dengan medium pendispersi.
2. Bakpao yang dicampur ragi dan hasilnya mengembang termasuk pada buih padat karena ragi yang dimasukkan ke dalam campuran mengeluarkan gas CO2 sehingga terdapat gelembung-gelembung udara. Dalam peristiwa ini menandakan bahwa adanya gas yang terdisperi dalam fase padat. Buih Padat adalah sistem koloid dengan fase terdisperasi gas dan dengan medium pendisperasi zat padat. Kestabilan buih ini dapat diperoleh dari zat pembuih (surfaktan).
3. Fermentasi alkohol merupakan suatu reaksi pengubahan glukosa menjadi etanol (etil alkohol) dan karbondioksida. Organisme yang berperan yaitu Saccharomyces cerevisiae (ragi) untuk pembuatan tape, roti atau minuman keras. Reaksi Kimia:
C6H12O6 → 2C2H5OH + 2CO2 + 2 ATP
4. Tujuan
dari pencampuran adalah untuk membuat adonan yang sempurna agar adonan
mengembang dan mempunyai tekstur yang lembut, pori-pori kecil, dan tidak
bantat. Pada proses pencampuran adonan terjadi perubahan sebagian dari pati
berubah menjadi gula. Selanjutnya pada proses fermentasi terjadi perubahan
senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana.
Setelah melakukan percobaan, dapat disimpulkan bahwa :
1. Adonan bakpao termasuk pada
koloid sol cair karena fase terdispersinya (terigu) merupakan fase padat dan
medium pendispersinya cair. Secara lebih jelasnya adonan bakpao ini termasuk
pada koloid liofil karena karena sifatnya stabil dimana terdapat gaya tarik
menarik yang cukup besar antara fase terdispersi dengan medium pendispersi.
2. Bakpao yang dicampur ragi dan
hasilnya mengembang termasuk pada buih padat karena ragi yang dimasukkan ke
dalam campuran mengeluarkan gas CO2 sehingga terdapat
gelembung-gelembung udara. Buih pada ini memiliki fase terdisperasi gas dan
dengan medium pendisperasi zat padat
IX.
DAFTAR PUSTAKA
http://volcanobapao.blogspot.com/2013/02/laporan-praktikum-koloid.html

0 komentar:
Posting Komentar